Tanggal Hari Ini : 20 Nov 2018 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Meminimalisir Kerugian
Jumat, 09 Maret 2018 04:33 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Menjadi pewirausaha tidak selalu melulu untung. Kadangkala kerugian datang di depan mata. Entah karena faktor kurang teliti, kurang beruntung atau sebab lain. Pengalaman pertama kali berwirausaha selalu dihantui oleh risiko-risiko kerugian. Namun, sukses selalu membutuhkan keberanian untuk  tidak takut menghadapi kerugian.  

Sebuah Pengalaman Unik ditulis oleh Agan (bukan nama sebenarnya) dilinimassa sosial medianya. Ia menceritakan langkah pertamanya menuju perjalanan bertualang di dunia bisnis.
Bisnis pertamanya, 3 tahun lalu, yaitu membuka warung makan di pinggir jalan, menyewa sebuah teras rumah di daerah Cinere, Jakarta Selatan. Usaha ini dijalankan bersama seorang teman yang sudah berpengalaman kerja di resto. Seorang teman ini yang memiliki resep, system operasional dan menyiapkan tetek bengek tempat makan. Sementara Agan bertindak sebagai pemodal dan ikut bantu-bantu.
Usaha pertama Agan ini dilakukan sangat antusias, meskipun Agan sebenarnya yakin bahwa hanya 1% saja orang yang usaha sekali langsung jadi dan berhasil. Jadi ia sebenarnya sudah mengantisipasi dan memperkirakan 99.9% kemungkinan usaha yang dijalankan ini gagal. Modal usaha Rp15 juta ia ikhlaskan sebagai investasi untuk belajar, untuk mulai.
tips Berbisnis, Meminimalisir Kerugian, Cara Meminimalisir Kerugian, strategi berbisnisMeskipun kemungkinan suksesnya kurang dari 1%, namun Agan tetap semangat, karena meskipun kecil toh masih ada kemungkinan sukses. Aktivitas mulai membeli barang-barang perlengkapan masak, meja kursi, pinjem etalase, ia lakukan dengan semangat. Dekorasi tempat, meskipun agak susah karena di emperan rumah orang, akhirnya beres juga (meskipun dikemudian hari akhirnya ganti layout). Pegawai pun sudah dapat, beres dah. Tinggal opening, undang temen-temen deket, nglayani pengunjung dengan tangan sendiri. Sip dah, dari sehari-hari Agan yang jadi dosen dan konsultan, hari itu pun ia jadi tukang masak, sekaligus pelayan, dan tukang cuci piring.
Hari pertama, kedua, aman-aman saja, meskipun tidak ramai tetapi lumayan lah. Namun cobaan pertama datang. Salah satu pegawai menghilang, tidak datang lagi. Ia kelimpungan mencari pegawai baru, dan seperti kasus sebelumnya, karyawan yang baru bekerja beberapa hari merasa tidak cocok. Agan pun harus mencari lagi untuk ketiga kalinya orang yang bisa cocok kerja di sana.
Bulan pertama omset kami lumayan, meskipun belum dibilang menguntungkan, tapi cukuplah untuk bayar semua biaya agar warung ini tetap jalan. Rata-rata sehari bisa dapat omset Rp150 sampai Rp200 ribu. Namun setelah jalan 1 bulan, musibah itu datang. Dua orang karyawannya berhenti, dan tiba-tiba tanpa pemberitahuan sebelumnya. Dan saat itu susah banget cari penggantinya. Kapok mencari karyawan lagi. Agan tidak percaya lagi dengan orang sekitar, nanti dikit-dikit berhenti, malah repot.
Akhirnya dengan berat hati ditutuplah warung itu untuk sementara. Pencarian karyawan kali ini cukup lama, karena Agan tidak ingin asal dapat saja, tapi yang benar-benar komitmen ingin kerja. Akhirnya setelah tanya kesana kemari dapatlah pegawai impor dari Brebes. Namun sayangnya itu satu bulan kemudian. Dari informasi tukang bakso yang buka disebelah, banyak yang nanyain warung kami pas tutup. Duh sayang dah.
Setelah warung buka kembali, ternyata hasilnya tidak seperti yang ia harapkan. Omset berkurang drastis, maklum juga sih karena buka tutup begitu jadi pelanggan tidak terpercaya warungnya. Pada pembukaan yang kedua jadi sepi, hanya dapat 50 sampai 100 ribu. Dan setelah ia amati perkembangan dari hari ke hari ternyata tidak ada peningkatan. Ya sudahlah, akhirnya tahap kedua ini buka hanya dua bulan. Akhirnya Agan menutup usaha warung ini.
Kisah Agan di atas penting untuk mengambil pelajaran tentang bagaimana menyiapkan bisnis yang tepat. Pilihan usaha harus dipikirkan dengan matang. Pilihlah yang sesuai dengan minat, passion dan mungkin bakat, karena jika terjadi hal-hal yang tidak di inginkan, mudah menyelesaikannya.
Setiap usaha pasti ada risikonya, namun risiko usaha harus diminimalisir dengan cara memetakan potensi-potensi yang menjadi sumber kerugian dan mengantisipasinya. Mungkin harus bekerja lebih keras lagi, serta konsentrasi dan focus menjelankan usaha.
Jika semua sudah dilakukan, dan anda masih saja merugi. Anggap saja hal ini adalah ‘biaya belajar’ seperti yang sudah dilakukan Agan. 

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari