Tanggal Hari Ini : 12 Dec 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Suko Tjahyono, Seni Mereformasi Mental Wirausaha
Senin, 23 Januari 2017 07:42 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berwirausaha adalah seni. Tak mudah mengubah dan mengajak setiap orang untuk menekuni dunia wirausaha yang penuh tantangan. Bangkrut, gulung tikar, hingga terlilit hutang kerap menghantui banyak orang akibat masuk di dunia wirausaha. Namun  dengan strategi dan kemampuan manajemen yang baik, tak sedikit yang sukses dan menikmati manisnya menjadi pewirausaha.

“Saya dilahirkan dari kelurga mandiri. Ayah saya meninggal ketika saya kecil, dan saya pernah merasakan betapa getirnya hidup dengan kondisi yang sangat miskin,” ujar Suko Tjahyono memulai wawancaranya dengan majalah WK.

Saat itu, lanjut Suko, Ayahnya adalah sumber penghasilan dan tulang punggung keluarga. Ketika ayahnya meninggal, ibunya praktis kehilangan sumber penghasilan. “Saya merasakan suatu masa ketika sumber penghasilan dari Ayah sudah tidak ada lagi, ibu dan adik sakit-sakitan di rumah sakit. Saya praktis tinggal di rumah sakit menjaga adik yang sedang di rawat,”ujarnya mengenang.

Pengalaman yang pahit ini semakin berat dirasakannya ketika sang ibu juga meninggal tak lama kemudian. Sebagai kakak dengan 3 adik, yang tak memiliki harta yang tersisa dari orangtua karena rumah sudah terjual, ia merasakan betapa hidup ini sangat keras dan berat. Tak ada yang ia miliki saat itu, bahkan untuk satu piring bekas sekalipun. Saat itulah, Suko melihat arti pentingnya uang. Seakan-akan hidup dapat ditaklukan dengan uang.

 

Dalam Tekanan

Ketika dalam kesulitan hidup itulah Suko sempat protes kepada Allah, mengapa ia diberikan cobaan yang sangat berat. Cobaan yang menurutnya bukan waktunya dan tak disukainya.  Namun ditengah cobaan yang berat ini, Suko mulai mencoba untuk berwirausaha. Sambil bersekolah di sekolah lanjutan pertama, Suko mencari nafkah dengan berjualan kerupuk setiap hari di Pasar Kota Tuban. Pekerjaan itu dilalui beberapa waktu lamanya sambil menjaga ketiga adiknya.

Suko Tjahyono, MBA Motivator No 1 Indonesia

Lulus SLTA Suko berganti profesi menjadi buruh pengebor sumur. Upahnya tak seberapa. Menabung dua tahunpun masih tak cukup untuk membeli sebuah motor yang menjadi impiannya. Suatu hari Suko mengajukan kredit kepemilikan motor ke sebuah perusahan leasing. Namun keinginanya ditolak karena tidak memenuhi syarat. Semenjak saat itu ia bertekad memberanikan diri menjadi seorang pewirausaha.  

Ketika telah memiliki sepeda motor, meskipun kredit, Suko mencoba ingin melompat sukses lebih tinggi lagi. Ia ingin memiliki usaha kios kecil-kecilan, namun darimana modalnya?. Ia kemudian memutuskan menjual motor yang masih kredit untuk jadi modal membuka kios kecil-kecilan. Ia membeli beberapa kardus Indomie dan supermie dan dipajangnya berjejer sehingga kiosnya terlihat penuh dan banyak barang.

Ia kemudian mendirikan sebuah usaha berbadan hukum, sebuah CV agar dipercaya oleh bank. Melalui CV itulah ia mencari perusahaan-perusahaan yang bangkrut beserta isinya, dan membelinya dengan pembayaran bertempo. Berawal dari sanalah ia mulai berani berhutang.  Barang-barang dari perusahaan yang bangkrut tersebut ia tumpuk dan kemudian ia tawarkan lagi ke pihak lain, dan laku menjadi uang.

Demikian kreasinya terus berputar hingga usahanya terus meluas dan membesar.

Suko merambah bisnis lain, diantaranya bisnis jual beli mebel dan furniture, jual beli mobil, rental mobil, hingga menjadi developer property.

Usaha Suko sukses besar. Di Kota Tuban ia dikenal sebagai pebisnis muda yang sukses, karena usia baru menginjak umur 25 tahun mobilnya sudah banyak,  ada 14 buah, belum lagi rumah-rumahnya.  

Suko Tjahyono, MBA

Diterjang Krisis Moneter

 Ketika krisis moneter terjadi tahun 1997, usaha Suko ikut hancur. Saat itu sebagian besar usahanya dibiayai oleh pendanaan yang bersumber dari pinjaman. Bunga kredit pinjaman melejit tak terkirakan. Semua yang ia bangun habis. Dari nol kembali ke nol lagi.

Suko mencoba peruntungan lain di dunia bisnis multi level marketing (MLM). Tak sukses. Namun di bisnis MLM ini Suko menemukan buku yang membuatnya bangkit lagi. Sebuah buku berjudul  : Berfikir dan Berjiwa Besar.

 Ia kemudian menjual Hartopnya dan mengembara mencari peruntungan di Bali, menjadi suplyer kebutuhan hotel dan  belajar ilmu hukum di Program Ekstensi disebuah universitas di Bali.

 

Menjadi Motivator

Sutu hari, ada sebuah perusahaan yang memintanya untuk mengisi kelas motivasi. Itulah awal ia menjadi motivator. Motivasi tentang bagaimana bertahan dalam kesulitan hidup, dan bagaimana bangkit kembali. Tak sulit bagi Suko untuk menceritakan kembali pengalamannya,  karena hal itu sudah menjadi bagian dari sejarah kehidupannya.

Suko kemudian mendirikan lembaga pendidikan ‘Suko Tjahyono Learning Centre’, lembaga pelatihan  untuk mengembangkan kerampilan hidup dan mengasah jiwa pemenang bagi pesertanya. Melalui lembaga ini ia telah berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia.

Tahun 2010, bersama kawan-kawannya ia mendirikan Komunitas Masyarakat Entrepreneur Indonesia, misinya menciptakan sebanyak mungkin para entrepreneur baru di Indonesia.

“Kami berkeliling Indonesia untuk mengadakan workshop kewirausahaan,” ujarnya.

Para alumni workshop kewirausahaan ada yang bergabung membentuk program baru bernama Independen Bisnis Program (IBP). Melalui Program IBP inilah Suko mengembangkan beberapa modul pembelajaran kewirausahaan antara lain Modul Rahasia Menjadi Pengusaha Sukses, Teknik Bagaimana Menjadi Pengusaha Tanpa Modal, dan sebagainya.

Dalam pembelajaran kewirausahaan, Suko menekankan pentingnya mendalami cashflow dengan benar. Karena selama ini, menurut Suko banyak pengusaha, termasuk dirinya yang gagal karena salah memahami cashflow, dan keseimbangan uang masuk dan keluar.

“ Kita boleh  percaya tentang prinsip ekonomi yang mengatakan usaha dengan modal sekecil-kecilnya dengan hasil sebesar-besarnya, namun menurut saya pribadi prinsip itu harus ditambahkan,  modal boleh sebesar-besarnya dengan balik modal secepat-cepatnya,” cetusnya.  

Mengapa modal boleh sebesar-besarnya dengan balik modal secepat-cepatnya? Menurut Suko, modal yang cepat kembali dapat digunakan segera untuk pengembangan usaha lainnya.

Suko Tjahyono, MBA

Bertingkat

Dalam mengajarkan ilmu berwirausaha, Suko mengaku mengajarkannya secara bertingkat. Misalnya mengajarkan bisnis dengan modal cepat dari pinjaman, mengelola bisnis opportunity dengan mempelajari dasar-dasar waralaba, dan level selanjutnya mengajarkan bisnis investasi dengan belajar bisnis property. Ia mengajarkan bagaimana memiliki rumah dengan gratis,   serta memfasilitasinya  untuk dapat permodalan sampai menerima uangnya. Ia bahkan mengajarkan bagaimana menjalankan bisnis property  tanpa modal,  bukan hanya teori tetapi dibimbing sampai dapat menjalankannya. Ia juga mengajarkan bagaimana menjadi investor, dan mencoba mempraktekkan investasi pada sebuah produk budidaya rumput laut yang dikelola oleh “Solar Warm”.  

Pilihan investasi budidaya rumput laut menurut Suko, selain karena produknya riil,   perizinannya lengkap, izin dari Bapepam dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga sudah dikantonginya.

Sebagai konsultan bisnis,  invetasi ini merupakan momentum. Ia mengaku belum pernah menemukan bisnis dengan paket bisnis sebesar Rp65 juta, namun dalam waktu  6 bulan menjadi Rp265 juta, yang berarti memberikan 4 kali lipat keuntungan hanya dalam waktu 6 bulan. Tentu tak mudah meyakinkannya kepada masyarakat lainnya, menurut  Suko calon investor harus melakukan komunikasi secara detail dan menyeluruh dari prospektus agar jelas dan rinci mengenai investasi ini.

 

Reformasi Mental Wirausaha  

Dalam sebuah sesi workshop kewirausahaan yang diselenggarakan Suko selama dua hari satu malam, ia memberikan materi sebanyak 90 persennya adalah perubahan mental. Mental adalah inti dari perubahan, sisanya 10 persen adalah masalah teknis yang mudah berubah menyesuaikan.

Mental, menurut Suko yang akan mengubah segala-galanya.  Jika mentalnya pemberani Suko yakin seseorang akan menjadi orang yang sangat berguna.

Para peserta workshop kewirausahaan biasanya berasal dari semua lapisan masyarakat,  ada PNS, TNI, masyarakat umum, hingga pelajar dan mahasiswa. Pada hari pertama sesi terbanyak adalah tentang perubahan sikap mental berwirausaha, dan hari kedua diadakan outbound, yang mengajarkan keberanian dan kerjasama.

Para mentor yang memiliki keahlian khusus seperti ahli marketing, ahli NLP, motivator, dan disiplin ilmu lainnya, meramu agar peserta workshop menjadi pribadi yang luar biasa. 

Menurut Suko,  setiap orang harus memiliki keyakinan  bahwa untuk menjadi sukses setiap orang harus memantaskan diri untuk menerima kesuksesan yang diberikan oleh Tuhan. Setiap orang harus keberanian untuk siap jatuh dan keberanian untuk siap bangit kembali. Bahkan dari kondisi terjelek sekalipun.

 

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari