Tanggal Hari Ini : 18 Apr 2014 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
TEKAD WIRAUSAHA DAN SYARAT LIMA "S" (Bagian 3)
Senin, 06 Agustus 2012 11:36 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Oleh M. Choirul Amien

Walau bagaimana pun mendirikan usaha mikro tetap mengandung risiko; dan yang kerap ditakuti adalah risiko keuangan. Takut rugi.  Sering gambaran tentang risiko ini dibesar-besarkan, sehingga membuat ragu mereka  setiap mau melangkah. Takut rugi besar. Terus bagaimana caranya ? Jalan yang bisa ditempuh untuk mengurangi “ketakutan” di atas antara lain adalah mulailah dahulu dengan yang SEDERHANA. Dan  SEDERHANA ini menjadi “S” ketiga, setelah SENANG  dan SASARAN PASAR.

Sederhana bukan berarti asal-asal atau “semau gue”, tetapi yang dimaksud di sini adalah  keselarasan antara modal yang ditanam (dalam arti luas) dengan kebutuhan tingkat skala dan tatalaksana usaha minimal.

Ini penting bagi mereka yang selalu berpendapat  bahwa setiap usaha memerlukan modal besar, setiap usaha memerlukan sesuatu yang besar. Pendirian usaha sangat bisa dimulai dari  yang sederhana, dari kecil-kecilan dulu. Yang besar  berawal dari   yang kecil. Contoh gamblang adalah Bakso Malang Cak Eko, yang sekarang sudah memiliki ratusan outlet/cabang di berbagai tempat/kota,  berawal   dari usaha kecil-kecilan, usaha bakso gerobak, juga contoh-contoh usaha lainnya.

Kesedarhanaan tidak hanya menuntut efisiensi (dan ukuran minimal) saja, melainkan efektivitasnya juga. Hal tersebut lebih mudah diucapkan dari pada dipraktekkan.

Hambatan utama justru dari sikap mental. Kenyataannya tidak sedikit yang menuruti “apa yang diinginkan” daripada “apa yang dibutuhkan”.  Disiplin keuangan harus dipegang erat-erat. Kalau tidak benar-benar mampu mengendalikan disiplin keuangan akibatnya akan sangat mengecewakan, dan karena itu pendirian usaha akan menjadi sesuatu yang menakutkan

Ada contoh menarik. Salah satu teman penulis beberapa tahun yang mencoba membuka usaha salon kecantikan. Dia mengontrak ruko 1 lantai ukuran sekitar 40 m2 (4 X 10 meter), di pinggir salah satu jalan utama kota A. Dia bertekad mengembangkan usaha itu (maksudnya skala kecil/mikro)  atas saran teman sekantornya, dan kebetulan dalam radius 300 meter di daerah tersebut belum ada usaha serupa. Rupanya keinginannya jauh diatas kebutuhannya. Memang  selera teman penulis tersebut tinggi dan cenderung royal.  Karena modal sendiri kurang, akhirnya dengan uang pinjaman bank  dia merombak ruko tersebut menjadi semacam “istana”. Lantai diganti granit (sebelumnya keramik putih), dinding dilapis wallpaper kualitas prima.  Meubelair, meja/kaca hias, peralatan salon lainnya, termasuk kelengkapan seperti  AC, menggunakan yang bermerk dan merupakan “barang mahal”.

Singkat kata bangunan/ruang tersebut disulap menjadi serba lux dengan peralatan modern. “Jangan tanggung-tanggung” katanya. Tapi, sayang seribu kali sayang, belum genap setahun usaha teman penulis tersebut tutup. Ternyata kemewahan usahanya tidak banyak menarik minat   kebanyakan penduduk di sekitar tempat usahanya/di kota A.

Untuk menopang besarnya dan mahalnya biaya modal yang dikeluarkan, pemilik salon mau tak mau harus memasang tarif lebih tinggi dari tarif yang umum, terlebih dia menggunakan tenaga yang dianggap terbaik (dengan imbalan menarik).

Harga jual jasanya tidak  sesuai dengan kemampuan pasar. Ini akibat sikap mental yang salah, ingin langsung besar, buru-buru mengikuti keinginannya, bukan kebutuhan atau sasaran   pasar yang ada.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari