Tanggal Hari Ini : 23 Nov 2017 Login - Daftar
 
Profil | Info Usaha | Peluang Usaha | Entrepreneurship | Strategi Usaha | Keuangan | Profil Sukses | Jadwal Seminar
WaralabaInfo ProductBisnis OnlineIde BisnisInformasi Kumpulan Usaha MemberPendaftaran memberForum WirausahaMerchandiseInfo Iklan
 
Menciptakan Kultur Perusahaan
Rabu, 11 Mei 2011 22:37 WIB
Administrator



BERITA TERKAIT

Berbisnis adalah bercerita tentang kultur  perusahaan. Kultur perusahaan dibentuk karena berbagai kegagalan dan kesulitan yang dialami selama menjalankan usaha.
Sejak Utero Advertising berdiri dengan modal pinjaman  Rp500 ribu, alat-alat juga serba pinjam, serta karyawan dengan pengetahuan dan gaji yang pas-pasan, tidak membuat Dadik patah semangat.  Ketika tahun 2003 ada seorang pelanggan yang menghinanya karena rumah merangkap kantornya  yang dinilainya jelek, hinaan itu seperti cambuk yang melecut hati dan sanubarinya agar bersegera meralisasikan mimpi- mimpinya. Ia berkeinginan memiliki kantor yang keren, berada di lokasi strategis.
Tahap pertama, Dadik menyewa sebuah ruang kantor yang digunakan secara bersama-sama dengan teman temannya. Dadik membuka usaha advertising, sedangkan teman yang lain ada yang membuka usaha t-shirt distro, sedangkan yang lainnya melayani jasa pengetikan komputer.
Setahun setelah menempati kantor, dua orang temannya  mengundurkan diri dan memilih tidak melanjutkan usaha karena kesibukan kuliah. Sementara Dadik tidak ada pilihan lain kecuali harus terus dan fokus mengembangkan usahanya. 
Saat itulah Dedik sempat bimbang dan kalut. Kalut karena harus mempersiapkan uang sebesar  Rp4juta untuk membayar kontrak ruko setahun mendatang. Tanpa inventaris, tanpa komputer yang memadai, serta minim dukungan lainnya. Hal ini tidak membuat Dadik ragu, justru ia semakin bersemangat, dan semakin ingin membuktikan bahwa ia bisa.

Strategi Sebar Kartu Nama
Salah satu ide yang muncul di saat-saat kritis tersebut adalah ide pemasaran produk-produk advertising dengan menggunakan pemasaran menyebar kartu nama sebanyak-banyaknya kepada calon pelanggan.
Dengan mempekerjakan 4 orang karyawan, Dadik mencetak dan menyebar sebanyak 6000 lembar kartu nama tersebut. Kartu-kartu nama dibagikan kepada calon-calon pelanggan di kota Malang dengan waktu singkat. Sebelumnya melakukan promosi besar-besaran ini ia bermitra dengan salah satu supplier produsen spanduk terbesar di Malang, bahkan dengan system pembayaran mundur, artinya barang diproduksi dulu bayarnya belakangan.
Dalam waktu singkat Utero dikenal di seluruh Malang Raya,  dan ia benar-benar kebanjiran order. Padahal Dadik tidak memiliki peralatan mesin apapun, juga karyawan untuk mengerjakannya. Pekerjaan yang ia terima kemudian disubkan ke seluruh vendor-vendor percetakan baik yang ada di Malang, Surabaya, maupun Jakarta.
Setelah kebanjiran order, dan benar-benar kuwalahan, beberapa masalah mulai timbul. Hal tersebut terjadi karena jumlah karyawan masih sedikit, tempat usaha tidak representatif, serta  jadwal penyerahan barang mulai tidak tepat waktu, hal itu terjadi karena hasil produksi sangat tergantung dengan vendor-vendor/mitranya.
Para klien-klien yang member pekerjaan kepada Dadik mulai banyak yang mengetahui bahwa Dadik mensubkan pekerjaan lagi ke percetakan lain. Selain itu para vendor juga banyak yang berulah dengan mengembargo pekerjaan yang disubkan Dadik kepadanya.
“Banyak pekerjaan kami yang diblokade oleh para supplier/vendor kami karena mereka  merasa iri. Order pekerjaan Utero Advertising  lebih banyak dari yang diperoleh oleh perusahaan mitra/vendor kami yang notabene memiliki mesin sendiri. Mereka mulai memperlambat produksi, menurunkan kualitas produksi serta tidak tepat waktu,” ujar Dadik.
Akibat ulah para vendor ini banyak klien Utero yang kecewa. Ia mencoba memperbarui komitmen dengan mitra-mitranya, tetapi lagi-lagi ia dikhianati untuk yang kesekian kalinya.
Di saat berbagai permasalahan muncul, Dadik ingin suatu saat diberikan kelonggaran rizki untuk dapat membeli mesin sendiri. Bersama dengan beberapa teman, ia akhirnya membeli mesin bekas. Namun membeli mesin secara patungan inipun tidak memberikan hasil yang baik karena menyisakan konflik sesama mereka.
Ia akhirnya memutuskan membeli mesin produksi banner bekas dan ternyata kehadiran mesin bekas ini mampu menyelesaikan beberapa permasalah yang selama ini ia hadapi. Bisnis terus berjalan, akhirnya mesin kedua, mesin ketiga pun dibelinya.
Mesin-mesin bernilai miliaran ini, seolah-olah datang tanpa terasa. Tetapi begitulah bisnis. Dengan datangnya beberapa mesin baru, target omzetnya meningkat hampir 10 kali lipat dari biasanya.
Untuk mengelola bisnisnya, Dadik merekrut seorang manajer lulusan sebuah perguruan tinggi asal Australia.  Beberapa bulan mereka bekerja, bukan hasil baik yang didapatkan tetapi perusahaan semakin kacau, dan bahkan banyak karyawannya yang keluar, dan hampir 80 persen meninggalkan Utero advertising.
Keadaan ini tidak membuat Dadik gundah. Justru setelah membaca surat pengunduran diri seorang manager tersebut, ia bersyukur. Bersyukur karena ia semakin mengetahui kualitas karyawannya.
“Saya cuek saja. Biarkan mereka keluar semua, dengan cara semacam ini saya tahu apa yang ada di benak mereka,” cetusnya.

Setelah sebagian besar karyawannya meninggalkan Utero, Dadik merintis kembali usahanya dan merekrut kembali seorang manajer baru, dan bersama-sama dengannya membangun kultur baru Utero yang lebih nyaman, dinamis dan bervisi hingga kini.

comments powered by Disqus
 


Terbaru
Terpopuler
Terkomentari